LDKM BEM 2019: Bergerak atau Tergantikan

ZAMZAMSYIFA.SCH.ID, DEPOK – LDKM (Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa) dilaksanakan setelah pemilihan Ketua BEM (Badan Eksekutif Murid), pengurus BEM secara keseluruhan perlu ditentukan oleh ketua BEM untuk bersama-sama membangun Zamzam Syifa Boarding School. BEM di Zamzam Syifa Boarding School dibedakan menjadi dua, yaitu BEM Ikhwan dan BEM Akhwat. Secara keseluruhan, ada sepuluh divisi dalam kepengurusan BEM. Divisi itu meliputi kedisiplinan, olahraga, seni, kebersihan dan keindahan, ruhiyah, dalam negeri, humas, entrepreneurship, bela negara, serta bahasa dan Pendidikan.

Baca juga: ZSBS, Sekolah Ramah Anak yang Cetak Generasi Pemimpin

Peserta LDKM Siapa Saja?

Seluruh pengurus divisi yang berjumlah 64 siswa harus mengikuti kegiatan LDKM di Gunung Halimun Bogor. Jumlah itu dibedakan menjadi dua, yaitu 29 siswa laki-laki dan 35 siswa perempuan. Sebelum berangkat, semua siswa sudah melampirkan surat pernyataan persetujuan dari orang tua agar kegiatan di Gunung Halimun dapat berjalan sesuai dengan harapan semua orang. Tidak lupa menyertakan doa dan persiapan matang.

Hangatnya Persaudaraan di Halimun

Kegiatan fisik yang tidak biasa butuh persiapan ekstra. Oleh sebab itu, seminggu sebelumnya, tanggal 29 September 2019, seluruh siswa harus mengikuti kegiatan Pra-LDKM di sekolah. Kegiatan itu berisi sejumlah aktivitas pembiasaan fisik dan mental siswa sebelum kegiatan LDKM. Aktivitas yang dilakukan meliputi lari mengelilingi kompleks sekitar sekolah, kedisiplinan baik disiplin makan maupun datang ke lokasi, kemauan untuk berbagi dengan sesama melalui berbagi minuman, dan materi tentang cara bertahan hidup di hutan atau gunung. Materi ini meliputi cara memasang tenda, cara menyalakan kompor, cara memasang gas hicook ke kompor portable, cara mengidentifikasi arah menggunakan kompas atau tanda-tanda alam, dan cara menghadapi binatang buas di hutan.

Barulah setelahnya siswa mengikuti kegiatan LDKM selama tiga hari dua malam di Gunung Halimun Bogor. Pukul 09.00, seluruh siswa berkumpul di Lantai GF sebelum masuk ke tronton. Mereka berdoa sejenak dan mengecek seluruh kelengkapan karena mereka tidak diizinkan untuk kembali ke asrama apapun alasannya jika sudah berada di tronton. Perjalanan yang ditempuh selama 3-4 jam. Sesampainya di lokasi, seluruh siswa salat duhur-asar dan makan. Aktivitas ibadah mereka ini sangat unik karena mereka wudu di sungai dan salat di hutan. Mereka tidak membawa uang sehingga tidak bisa wudu di toilet.

Setelahnya, siswa diajak mendaki ke lokasi camping. Pendakian selama satu jam. Pendakian ini bukan tidak beralasan. Mereka diajak untuk melatih fisik sebelum pendakian hari Minggu selama tiga jam perjalanan. Setibanya di lokasi camping, mereka langsung mendirikan tenda dan memasukkan barang-barang mereka ke dalam tenda. Selain itu, mereka pun harus memasak sendiri untuk makanan mereka. Makanan yang berhasil mereka masak sangat beragam. Ada kwetiauw, spaghetti, mi telur, nasi urak-arik, nasi liwet, mi bihun, rendang, nasi ransum TNI, sosis, bakso, ubi, kentang, telur, roti, dan menu lainnya yang bisa mereka makan.

Baca juga: Wah Perbedaan Pondok Pesantren Dengan Islamic Boarding School Begini? Fakta Nomor 7 Jadi Idaman!

Bendera Boarding School Pertama yang Berkibar di Puncak Gunung Halimun

Materi yang mereka dapatkan selama hari Jumat-Sabtu meliputi kegiatan berkemah di hutan. Selain itu, siswa juga diajak berlatih PBB, outbound seru untuk memperebutkan slayer kepengurusan BEM, games seru, bermain air di curug, manajemen emosi dan kesetiakawanan, dan pentas seni. Penampilan di pentas seni rata-rata berupa nyanyian.

Dari kegiatan ini, ada aktivitas seru terkait mendapatkan slayer kepengurusan BEM. Tiap guru memiliki sejumlah slayer yang bisa dibagikan ke siswa. Sayangnya, tidak semudah itu bagi siswa untuk mendapatkan. Mereka harus menerima challenge ‘tantangan’ dari bapak ibu guru. Tantangan yang diberikan beragam sesuai bidang mengajar guru. Ustad Suryono memberikan tantangan menghafal ayat quran, Miss Ilma memberikan tantangan kuis tebak kata, menulis pantun, stand up comedy, dan membacakan puisi, Miss Afifah memberikan tantangan tebakan kuis Kimia, Miss Rini memberikan tantangan kuis soal Matematika, dan Miss Mitha memberikan tantangan berupa penyelesaian masalah/studi kasus.

Keesokan harinya, siswa dikukuhkan menjadi pengurus BEM oleh Ustad Suryono sebagai Kepala Sekolah Zamzam Syifa Boarding School. Fadhilah Anandita Putri Permata (Ketua BEM Akhwat) dan Thio Ahlan Shakura (Ketua BEM Ikhwan) mengibarkan bendera BEM disaksikan langsung oleh semua guru dan anggota pengurus yang lain. Setelahnya, semua siswa dilantik di Puncak Kawah Ratu sebagai pengurus BEM. Mereka semuanya diajak mendaki Gunung Halimun menuju Puncak Kawah Ratu selama 4 jam perjalanan mendaki dan 3 jam perjalanan menuruni gunung.

Baca juga: Simak Alur PMB Zamzam Syifa School 2020

Kegiatan LDKM ini seru banget. Tidur di tenda dan masak sendiri merupakan pengalaman pertama bagi saya.”

Dila, Ketua BEM Akhwat Zamzam Syifa Boarding School.

Kami belajar peduli dengan sesama melalui kegiatan ini.”

Fathiya, Sekertaris BEM Akhwat Zamzam Syifa Boarding School.

Penulis: Ilmatus Sa’diyah, S.Pd., M.Hum., (guru Bahasa Indonesia)

Editor: Ulya Himmatul

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

id_IDIndonesian
en_USEnglish id_IDIndonesian
Need Help? Chat with us