Hari Peduli Autisme Sedunia: A-Z Tentang Autisme

ZAMZAMSYIFA.SCH.ID, DEPOK – Pada hari ini, 2 April 2019 diperingati sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia. World Awareness Autism Day atau Hari Kesadaran Autisme Sedunia telah diselenggarakan setiap tahun sejak 9 September 1989. Penetapan hari ini berdasarkan Resolusi Majelis Umum PBB “62/139. World Autism Awareness Day” yang ditetapkan pada 18 Desember 2007, berdasarkan usulan Perwakilan Negara Qatar, dan didukung oleh semua negara anggota.

 

Apa Itu Autisme?

Sumber : Squilo Assets Blog

Kata Autis berasal dari bahasa Yunani ‘Auto’ yang ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala ‘hidup dalam dunianya sendiri’. Pemakaian istilah autis pertama kali dikenalkan oleh Leo Kanner, seorang psikiater dari Harvard pada tahun 1943. Berdasarkan pengamatan terhadap penyandang yang menunjukkan gejala kesulitan berhubungan dengan orang lain, mengisolasi diri, dan berperilaku tidak seperti pada biasannya oleh kebanyakan orang banyak.

Autisme merupakan gangguan pada sistem saraf otak yang mempengaruhi fungsi otak dan dialami pada salah satu bayi lahir. Autisme adalah suatu kondisi neurologis seumur hidup yang muncul pada anak usia dini, terlepas dari jenis kelamin, ras atau status sosial ekonomi. Gangguan ini ditandai oleh kesulitan dalam interaksi sosial, komunikasi verbal dan nonverbal, dan perilaku repetitif. Autisme memiliki pengaruh besar pada anak-anak, keluarga, dan masyarakat. Merawat dan memberikan edukasi pada anak-anak dan orang dengan kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi penyedia layanan kesehatan dan pendidikan.

 

Sejarah Hari Peduli Autisme Sedunia

Sumber : Detik.net

Hari Peduli Autisme Sedunia (World Autism Awareness Day) diperingati pada tanggal 2 April setiap tahunnya.  Melalui Hari Peduli Autisme Sedunia, PBB berharap kepedulian di kalangan masyarakat terhadap autisme akan meningkat, seperti misalnya dengan melakukan diagnosis dini agar intervensi yang lebih cepat dapat dilakukan terhadap orang dengan autisme.

Pada dasarnya, Hari Autis Sedunia ini diselenggarakan dengan tujuan untuk menyadarkan kepada masyarakat pentingnya kepedulian terhadap kaum autis. Sebab kaum autis dianggap sebagai kaum lemah bagi sebagian orang awam. Kata autis pun kerap kali dipakai untuk julukan bagi mereka yang memiliki IQ dibawah rata-rata.

Peringatan ini disahkan Majelis Umum PBB pada 1 November 2007 dan ditetapkan pada 18 Desember 2007 melalui Resolusi Majelis Umum PBB 62/139. Resolusi ini diinisiasi melalui Sidang Majelis Umum PBB ke-62 oleh Perwakilan Negara Qatar dan didukung oleh seluruh Negara anggota PBB. Resolusi ini disahkan dan diadopsi terutama sebagai suplemen untuk inisiatif PBB sebelumnya untuk meningkatkan Hak Asasi Manusia (HAM).

Hari Autisme Dunia juga merupakan salah satu dari empat Hari Kesehatan resmi PBB. Hal ini membuat organisasi autisme di seluruh dunia bergerak secara bersama-sama untuk membantu dalam hal-hal seperti penelitian, diagnosis, pengobatan dan kepedulian bagi mereka dengan gangguan pervasif tersebut secara keseluruhan.

Melalui kegiatan hari kepedulian terhadap Autisme ini membantu meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan dunia anak-anak dan orang dewasa dengan gangguan spektrum autisme. Selain itu juga dapat dilakukan dengan menyalurkan dan membanggakan bakat unik dan keterampilan para penyandang autisme dan hari ketika individu dengan autisme menjadi relasi sosial dalam acara komunitas di seluruh dunia. Stop Bullying Autism, karena mereka unik, istimewa dan bagian dari kita.

 

Lindungi Mereka, Kenali Gejalanya

Sumber : Blessed Kids Center

Gejala yang ada berupa sikap anak yang cenderung menolak berkomunikasi dan berinteraksi, dan tidak memperdulikan lingkungan serta orang-orang sekitarnya. Sulit dalam pemahaman bahasa dan komunikasi secara verbal serta perilaku stimulasi diri yang lain.

Autisme sendiri merupakan sebuah kelainan pada perkembangan sistem saraf manusia yang kebanyakan diakibatkan oleh faktor hereditas. Autisme dapat dideteksi sejak dini, ketika bayi masih berusia 6 bulan, melalui serangkaian tes khusus. Autisme bukan merupakan penyakit keturunan ataupun menular, Autisme juga bukan bagian dari penyakit kejiwaan dan murni merupakan kelainan syaraf pada otak.

Autisme diklasifikasikan sebagai Gangguan Spektrum Autisme atau Autism Spectrum Disorders (ASD) yang merupakan salah satu dari lima jenis gangguan di bawah payung Gangguan Perkembangan Pervasif atau Pervasive Development Disorder (PDD).

Melalui deteksi sejak dini dan terapi yang dilakukan sejak sedini mungkin, penderita autism dapat lebih mudah untuk menyesuaikan dirinya dengan mereka yang normal. Autisme tentu memiliki pengaruh besar pada anak-anak, keluarga dan lingkungan masyarakat disekitarnya. Maka dari itu merawat serta memberikan edukasi pada seluruh lapisan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi penyedia layanan kesehatan dan Pendidikan, serta membutuhkan kesinambungan agar tercipta lingkungan yang ramah bagi pribadi-pribadi spesial itu.

 

Biru Sebagai Lambang Keterbukaan

Sumber : Radar Bogor

Perayaan Hari Autisme ini biasanya diwakilkan dengan adanya penggunaan atribut berwarna biru dengan berisikan vendel-vendelyang menyatakan peduli terhadap autis. Warna biru menjadi simbol masyarakat menerima dengan tangan terbuka semua individu dengan autisme.

Tidak hanya itu, di beberapa negara perayaan autis ini melibatkan bangunan besar sebagai landmark perayaan autis ini. contohnya di UEA, beberapa bangunan di Abu Dhabi seperti Emirates Palace, Capital Gate, Shaikh Zayed bridge, Central Market, Adnoc Buildings,akan menyala berwarna biru. Di New York, gedung putih pun akan menyala biru untuk memperingati Hari Autis Sedunia.

Di Indonesia sendiri Hari Autisme Sedunia pernah dilaksanakan di Karawang tahun 2015 silam. Mereka melakukan berbagai aktivitas sesuai tema LIGHT IT UP BLUE. Warna biru yang disimbolkan sebagai warna semangat dan harapan untuk kehidupan yang lebih bagi para penyandang Autis di seluruh dunia.

Pada era dewasa ini, banyak dirayakan hari-hari besar baik nasional maupun Internasional. Tak luput juga untuk Hari Autisme yang selalu diperingati banyak LSM, organisasi juga masyarakat luas lainnya. Mereka pada umumnya menyelenggarakan acara yang bertajuk kepedulian dan melakukan aksi-aksi dalam rangka peringatan Hari Autisme Sedunia.

Tak lain tujuan mereka adalah pencerdasan kepada masyarakat agar memahami tentang autis itu sendiri, bahwa kata ‘autis’ tidaklah pantas digunakan sebagai bahan ejekan karena termasuk perilaku yang tidak etis. Autisme hanyalah keterlambatan perkembangan, hal itu bukanlah menjadi suatu hal yang harus dihindari bahkan dijauhi. Dampak lain yakni bagi keluarga yang memiliki anak dengan autisme, akan menjadi suatu hal yang sangat menyakitkan bagi psikologi mereka. Namun autisme dapat dipulihkan melalui terapi dan pengobatan yang tepat secara rutin berangsur-angsur.

 

Kamu juga bisa membagikan artikel ini dengan cara klik ikon sosial media di bawah supaya semakin banyak yang terinsipirasi. Buat kamu yang masih ingin lihat pendidikan dan informasi lainnya, langsung saja kunjungi Instagram @zamzamsyifaschool ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

en_USEnglish
id_IDIndonesian en_USEnglish